Pages

Selasa, 14 Oktober 2014

Intervensi Psikologi Via Internet

Dewasa ini, para pengguna internet semakin berkembang dengan pesat. Kehidupan manusia pun bukan hanya menyangkut dunia kasat mata tetapi mulai beralih ke dunia cyber. Berkembangnya teknologi internet ini juga telah merambah ke berbagai disiplin keilmuan termasuk ilmu psikologi. Dengan kecanggihan aplikasi yang ditawarkan, internet menyediakan aplikasi yang bisa diolah untuk membantu praktisi dan masyarakat dalam melakukan proses terapi atau praktik konseling yang secara umum dikenal dengan e-counceling.

Terdapat beberapa terminologi untuk menyebut wahana terapeutik via internet antara lain yaitu, e-therapy, terapi online, cyber counseling, e-counseling dan web-counceling (Martin, 2007). Dari berbagai terminologi yang dipakai, salah satu yang berkembang adalah intervensi berbasis web. Menurut Barak dkk (2009) intervensi berbasis web merupakan program intervensi yang sifatnya mandiri. Prosedurnya, adalah dioperasikan melalui sebuah situs tertertu dan digunakan oleh klien yang sedang membutuhkan bantuan kesehatan. Hal ini tidak memerlukan pertemuan resmi secara face to face.

Dukungan intervensi berbasis internet berkembang merupakan hasil dari meningkatnya penerimaan masyarakat terkait internet sebagai alat legitimasi sosial, berkembangnya hardware komputer dan sofware, berkembangnya panduan yang spesifik dari organisasi profesional dan berkembangnya training berbasis online (Barak, 1999). Berbagai macam psikoterapi pun bermunculnya via online dan berkembang secara dinamis (seperti Suler, 2001).

Berbagai wahana lain selain web semakin banyak berkembang di internet, seperti halnya berkembangnya situs jejaring sosial, wahana permainan, dan beragam situs-situs lain juga bisa dimanfaatkan sebagai desain intervensi. Misalnya, online games bisa dimanfaatkan untuk membantu anak-anak dalam memperbaiki pola makan dan mencegah obesitas (www.medpagetoday.com). Fakta semacam ini, sekarang banyak mendapatkan perhatian dari berbagai praktisi untuk memberikan layanan di bidang kesehatan mental dan pengembangan diri.

Pada sisi lain, banyaknya waktu yang dihabiskan seseorang untuk mengakses internet juga berimbas pada semakin berkurangnya waktu seseorang yang tersedia untuk melakukan aktivitas di dunia nyata. Keengganan itu juga menyangkut waktu untuk melakukan konsultasi terkait masalah yang dihadapi dengan terapis. Selain itu, proses berjalannya terapi yang menyangkut terapis profesional dan bersifat klinis terkadang membuat orang-orang tertentu tidak merasa nyaman.

Pada situasi seperti masalah keengganan, perlu dipertimbangkan untuk memanfaatkan internet sebagai medium terapi. Apabila dikelola dengan baik, strategi intervensi psikologis berbasis internet akan memberi daya tarik tersendiri bagi masyarakat dan akan memunculkan antusiasme untuk menyelesaikan masalah psikologis yang mereka hadapi. Terbukti, berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Straten dkk (2008) bantuan mandiri berbasis web terbukti bisa mengurangi depresi dan kecemasan.

Peluang berkembangnya intervensi terapeutik berbasis internet cukup besar. Untuk kasus di Indonesia misalnya, jumlah pengakses internet dari berbagai kategori umur semkain banyak mulai dari anak-anak, dewasa bahkan yang sudah berusia lanjut dan mereka mengakses internet sebagai aktivitas yang dilakukan sehari-hari. Salah satu alasan inilah yang menjadi tolok ukur bahwa desain intervensi terapeutik berbasis internet penting untuk dikembangkan.

Salah satu contoh bentuk jasa konseling berbasis web yang berkembang di Indonesia salah satunya adalah web yang terkait dengan dukungan emosional seperti www.janganbunuhdiri.net yang dikembangkan oleh psikolog Universitas Indonesia yang memberikan layanan untuk mencegah perilaku bunuh diri. Sedangkan contoh lain yang adalah e-counsoler berbasis aplikasi kartun yang bernama Asri yang dikembangkan oleh psikologi UGM yang memberikan jasa konsultasi bagi mereka yang ingin konsultasi masalah stress dan depresi.

Pada tahun 2011, American Psychological Association (APA) pada tanggal 4-7 Agustus secara khusus mengadakan konvensi mengenai e-Health, internet sebagai basis perubahan masyarakat terutama menyangkut masalah basis pengembangan kesehatan mental. Pada forum ini dikaji perdebatan mengenai apakah intervensi psikologi via internet sebatas “guide” ataukah “full automated intervension”. “Full automated intervension” maksudnya klien secara penuh melakukan konsultasi ataupun terapi langsung dengan program yang sudah dirancang secara otomatis.

Persoalan yang lain yang perlu diperhatikan menyangkut intervensi psikologi berbasis internet adalah menyangkut etika e-counselor. Pada sisi praktek, e-counseling sebenarnya mendapatkan kepuasan dari sisi terapis dan dianggap efektif (Barak dan Finn, 2010). Namun pada sisi etis, belum ada konsensus mengenai obligasi  etis praktek konseling berbasis internet terutama menyangkung aspek budaya. Terlepas dari beragam perdebatan ini, pengembangan intervensi berbasis internet tetap hal yang penting untuk terus dikembangkan (N.K).


Referensi:
Barak & Finn (2010). A Descriptive Study of e-cousellor attitude, ethics, and practice. Journal of Counseling and Psychoteray Research, 10, 268-277.
Barak, Azy et.al. (2009). Defining Internet Supported Therapeutic Intervention; Annals of Behavioral Medicine Ann Behav Med, 38, 4-17.
Barak, A. (1999). Psychological applications on the internet: a discipline on the threshold of a new millennium. Applied and Preventive Psychology, 8, 231-246.
Martin, Ann Margareth T. (2007). A Grounded Theory Approach In Developing a Cyber counseling Framework. Envisioning a Culture of Peace. Philipines: Unpublished.
Straten, Annemeike et.al. (2008). Effectiveness of a Web Based Self-Help Intervention for Symptoms of Depression, Anxiety, and Stress: Randomized Controlled Trial. Journal of Medical Internet Research, 10 (I):e7. 
Suler, J.R. (2001). Psychotherapy and clinical work in cyberspace. Journal of Applied Psychoanalytic Studies, 3, 95-97.

1 komentar: