Dewasa ini, para
pengguna internet semakin berkembang dengan pesat. Kehidupan manusia pun bukan
hanya menyangkut dunia kasat mata tetapi mulai beralih ke dunia cyber. Berkembangnya teknologi internet
ini juga telah merambah ke berbagai disiplin keilmuan termasuk ilmu psikologi.
Dengan kecanggihan aplikasi yang ditawarkan, internet menyediakan aplikasi yang
bisa diolah untuk membantu praktisi dan masyarakat dalam melakukan proses
terapi atau praktik konseling yang secara umum dikenal dengan e-counceling.
Terdapat beberapa
terminologi untuk menyebut wahana terapeutik via internet antara lain yaitu, e-therapy, terapi online, cyber counseling, e-counseling dan web-counceling
(Martin, 2007). Dari berbagai terminologi yang dipakai, salah satu yang
berkembang adalah intervensi berbasis web. Menurut Barak dkk (2009) intervensi
berbasis web merupakan program intervensi yang sifatnya mandiri. Prosedurnya,
adalah dioperasikan melalui sebuah situs tertertu dan digunakan oleh klien yang
sedang membutuhkan bantuan kesehatan. Hal ini tidak memerlukan pertemuan resmi
secara face to face.
Dukungan intervensi
berbasis internet berkembang merupakan hasil dari meningkatnya penerimaan
masyarakat terkait internet sebagai alat legitimasi sosial, berkembangnya
hardware komputer dan sofware, berkembangnya panduan yang spesifik dari
organisasi profesional dan berkembangnya training berbasis online (Barak, 1999).
Berbagai macam psikoterapi pun bermunculnya via online dan berkembang secara
dinamis (seperti Suler, 2001).
Berbagai wahana lain
selain web semakin banyak berkembang di internet, seperti halnya berkembangnya
situs jejaring sosial, wahana permainan, dan beragam situs-situs lain juga bisa
dimanfaatkan sebagai desain intervensi. Misalnya, online games bisa dimanfaatkan untuk membantu anak-anak dalam
memperbaiki pola makan dan mencegah obesitas (www.medpagetoday.com). Fakta
semacam ini, sekarang banyak mendapatkan perhatian dari berbagai praktisi untuk
memberikan layanan di bidang kesehatan mental dan pengembangan diri.
Pada sisi lain,
banyaknya waktu yang dihabiskan seseorang untuk mengakses internet juga
berimbas pada semakin berkurangnya waktu seseorang yang tersedia untuk
melakukan aktivitas di dunia nyata. Keengganan itu juga menyangkut waktu untuk
melakukan konsultasi terkait masalah yang dihadapi dengan terapis. Selain itu,
proses berjalannya terapi yang menyangkut terapis profesional dan bersifat
klinis terkadang membuat orang-orang tertentu tidak merasa nyaman.
Pada situasi seperti
masalah keengganan, perlu dipertimbangkan untuk memanfaatkan internet sebagai
medium terapi. Apabila dikelola dengan baik, strategi intervensi psikologis
berbasis internet akan memberi daya tarik tersendiri bagi masyarakat dan akan
memunculkan antusiasme untuk menyelesaikan masalah psikologis yang mereka
hadapi. Terbukti, berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Straten dkk
(2008) bantuan mandiri berbasis web terbukti bisa mengurangi depresi dan
kecemasan.
Peluang
berkembangnya intervensi terapeutik berbasis internet cukup besar. Untuk kasus
di Indonesia misalnya, jumlah pengakses internet dari berbagai kategori umur semkain
banyak mulai dari anak-anak, dewasa bahkan yang sudah berusia lanjut dan mereka
mengakses internet sebagai aktivitas yang dilakukan sehari-hari. Salah satu
alasan inilah yang menjadi tolok ukur bahwa desain intervensi terapeutik
berbasis internet penting untuk dikembangkan.
Salah satu contoh
bentuk jasa konseling berbasis web yang berkembang di Indonesia salah satunya
adalah web yang terkait dengan dukungan emosional seperti www.janganbunuhdiri.net yang
dikembangkan oleh psikolog Universitas Indonesia yang memberikan layanan untuk
mencegah perilaku bunuh diri. Sedangkan contoh lain yang adalah e-counsoler berbasis aplikasi kartun yang
bernama Asri yang dikembangkan oleh psikologi UGM yang memberikan jasa
konsultasi bagi mereka yang ingin konsultasi masalah stress dan depresi.
Pada tahun 2011, American Psychological Association (APA)
pada tanggal 4-7 Agustus secara khusus mengadakan konvensi mengenai e-Health, internet sebagai basis
perubahan masyarakat terutama menyangkut masalah basis pengembangan kesehatan
mental. Pada forum ini dikaji perdebatan mengenai apakah intervensi psikologi
via internet sebatas “guide” ataukah “full automated intervension”. “Full
automated intervension” maksudnya klien secara penuh melakukan konsultasi
ataupun terapi langsung dengan program yang sudah dirancang secara otomatis.
Persoalan yang lain
yang perlu diperhatikan menyangkut intervensi psikologi berbasis internet
adalah menyangkut etika e-counselor. Pada
sisi praktek, e-counseling sebenarnya
mendapatkan kepuasan dari sisi terapis dan dianggap efektif (Barak dan Finn,
2010). Namun pada sisi etis, belum ada konsensus mengenai obligasi etis praktek konseling berbasis internet
terutama menyangkung aspek budaya. Terlepas dari beragam perdebatan ini,
pengembangan intervensi berbasis internet tetap hal yang penting untuk terus
dikembangkan (N.K).
Referensi:
Barak & Finn (2010). A
Descriptive Study of e-cousellor attitude, ethics, and practice. Journal of Counseling and Psychoteray
Research, 10, 268-277.
Barak, Azy et.al. (2009). Defining
Internet Supported Therapeutic Intervention; Annals of Behavioral Medicine Ann Behav
Med, 38, 4-17.
Barak,
A. (1999). Psychological applications on the internet: a discipline on the
threshold of a new millennium. Applied
and Preventive Psychology, 8, 231-246.
Martin, Ann Margareth T. (2007). A Grounded
Theory Approach In Developing a Cyber counseling Framework. Envisioning a Culture of Peace. Philipines: Unpublished.
Straten, Annemeike et.al. (2008). Effectiveness of a Web Based Self-Help Intervention for Symptoms of
Depression, Anxiety, and Stress: Randomized Controlled Trial. Journal of Medical Internet Research, 10 (I):e7.
Suler,
J.R. (2001). Psychotherapy and clinical work in cyberspace. Journal of Applied Psychoanalytic Studies, 3, 95-97.
Jozzz....Lanjutkan Tulisanmu Pak....
BalasHapus