Oleh: Nuzulul Khair*
Berbicara masalah kebebasan dan kedaulatan dalam arti yang sederhana, kita
tidak akan pernah melupakan sejarah rakyat Indonesia dalam memperjuangkan
hak-hak politiknya. Sebelum zaman pra-kemerdekaan fisik bangsa dikuasai oleh
pihak kolonial, harapan akan merengkuh kembali jati diri bangsa selalu diamini lewat
perjuangan rakyat sendiri. Hal tersebut sudah lama kita ketahui geliatnya dan memberi
imbas positif hingga sekarang. Berbekal bambu runcing dan semangat yang
berkobar, pada puncaknya kita telah merdeka dari penjajahan pihak asing. Rakyat
Indonesia pun bisa menjamin aspirasi politiknya secara leluasa.
Setiap pelaksanaan pemilu rakyat cuma sekadar mencoblos dan kebanyakan
tidak paham apa maksud di balik penconblosannya. Sebab mereka tidak tahu harus
berbuat apa di tengah berbagai atribut politik yang selama ini menawarkan
segala macam menu. Para calon pemimpin dengan berbagai cara mewartakan
janji-janji politik. Rakyat Dicekoki dengan sajian yang meriah namun dibuat
bingung saat akan mencicipi rasanya. Hal inilah yang kemudian menjadi salah
faktor satu keterpurukan bangsa ini. Depolitisasi manusia.
Realitas ini yang kemudian menggugah penulis untuk mengetengahkan
wacana politik pasca-identitas. Politik yang selama ini dijadikan salah satu
instrumen untuk mengurusi negara dengan berbagai macam segmentasinya, semestinya
diubah menjadi semacam seni menata masyarakat yang lebih proporsional. Jadi,
antara cara dan tujuan berimbang atau tidak pincang. Kalau boleh dibilang
kesejahteraan masyarakat tidak ditawarkan dalam bentuk angan-angan semata
(iklan politik). Sebab hal itu akan nampak ‘jumud’ apabila tidak dibarengi
realisasi kongkrit dan perubahan ke arah yang lebih positif.
Sedangkan dinamika partai politik sekarang sedang getol-getolnya
memoles pencintraan demi mendapatkan kekuasaan. Secara logis para kandidat yang
ingin maju ke gelanggang politik tidak hanya menggunakan nalar kosmetik, yang berusaha
mempercantik sesuatu yang sebenarnya tidak menarik dan tidak pas. Andaikata ini
terlanjur diejewentahkan maka akan membidani lahirnya absolutisme kekuasaan dan
meninggalkan nilai-nilai demokratis. Berbagai fakta ini akan melahirkan
individualisme yang menuntut adanya perbedaan yang nantinya menjurus pada
politik identitas.
Sebuah pencintraan diri yang selalu digembar-gemborkan oleh partai
politik terutama oleh calon-calonnya, tidak semuanya dapat dibenarkan dan masih
perlu dikritisi. Sebab pencitraan sejatinya dimunculkan bukan oleh pihak
internal yang menjadi penilai, akan tetapi oleh pihak eksternal secara
obyektif. Pencintraan internal lebih diidealkan untuk perbaikan diri individu
bukan untuk perbaikan orang yang lain, atau kita lebih tepat mengistilahkannya
sebagai konsep internalisasi nilai. Citra lebih pada apa yang menjadi penilaian
orang lain terhadap partai tertentu ataupun calon tertentu, agar masyarakat
benar-benar tahu kelebihan dan kekurangan dan apa yang sekiranya patut
diteladani.
Apabila pencitraan menjadi
komoditas untuk mempopulerkan diri dengan pengakuan secara spesifik tentang
suatu hal yang di luar batas dan kapasitasnya, hal ini akan menimbulkan bias
politik dan bias kemanusiaan. Seperti diakui, politik tidak lepas dari yang
namanya kepentingan. Sedangkan kepentingan bermula dari ego dan ego muncul oleh
proyek pengukuhan identitas. Identitas bergerak dari ranah kategori legal
politik yang ikut menentukan institusi publik. Politik pengakuan ini akan
mengarah pada pemaksaan keseragaman pemilihan dan pemutlakan klaim-klaim.
Selain itu, logika ekonomi tidak bisa diterapkan dalam logika
perpolitikan karena bisa melahirkan disfungsi dalam tataran aplikasi. Modal
bisa menjadi semacam pengukuh pencitraan dalam mempopulerkan kepentingan pihak tertentu
dalam arus kepemilikan dan nilai tawar. Persoalannya sekarang, kampanye
perpolitikan yang banyak memberikan nilai tawar berbasis modal tersebut membuat
masyarakat semakin marginal secara politis baik teoretis maupun aplikatif.
Nalar Teks ke Konteks
Ruang demokratis adalah ruang yang
terbuka lebar dan berhak diganggu. Persoalan identitas bukanlah hal yang sakral
dan tidak leksikal. Fenomena perwajahan dalam arti yang mengidentifikasi diri
masih multi interpretasi. Salah satu bentuk pembelajaran berpolitik bisa
dipahami siapa saja dan tentang apa saja asalkan masyarakat digereng pada
identitas yang tidak klise. Terlebih lagi identitas yang berbasis teks walaupun
sebatas wacana singkat seperti yang ditulis di baliho kota akan melahirkan
suatu konsepsi.
Konsepsi dalam jejak referensial Foucault mengatakan—bahwa pekerjaan
terhadap teks bukanlah pekerjaan mengonsumsi semata tetapi a work of art yang mencerap aspek-aspek keutamaan, esensial, bobot
yang terkandung dalam teks itu sendiri, di mana seluruh tindakan selanjutnya
adalah mencari inti bacaan, menggeledah, mendiskusikannya dan lain-lain. Teks layaknya
suatu parasit yang terhubung terhadap sejarah hidup manusia, tidak hanya
sejarah politiknya, tetapi dimensi historis dari sejarah itu sendiri.
Penjelasan serba ringkas seharusnya tidak hanya berhenti pada ranah
teks, melainkan harus diarahkan ke arah konteks. Apabila hanya sebatas teks,
dinamika perpolitikan kita akan terus ngoyo
dengan janji-janji yang tidak mencerdaskan. Perlu adanya konseptualisasi dan
tidak menjadikan teks sebagai terminal pengambilan keputusan tetapi perlu
singgah ke wilayah rasionalisasi dan ketertebakan.
Dewasa ini iklan politik banyak digarap lewat kristalisasi teks yang
serasa menyugesti. Sebagai realisasi dari paradigma yang memberikan semacam
ramalan-ramalan baru yang belum bisa diuji dan dibuktikan secara eksperimental.
Padahal kita tahu masyarakat belum sepenuhnya punya kesadaran untuk menafsirkan
logika itu, di samping belum maksimalnya penyuluhan yang benar. Pendidikan politik
yang diusung masih berkutat pada tataran normatif seputar pencoblosan dan tata
cara formal lainnya. Apa sebab? Persoalan politik telah diproyekkan menjadi
otonomi masing-masing dan ada legitimasi kuasa. Kita belum belajar pada
spekulasi ilmiah yang meletakkan legitimasi pencitraan setelah benar-benar ada
bukti empiris.
Melampaui Identitas
Menghadapi kecenderungan pengagungan
identitas di atas, sikap bijaksana yang perlu dikembangkan adalah mendialogkan
secara sinergis dan transparan bahwa sesungguhnya politik bukanlah persoalan
popularitas. Popularitas tidak bisa dibentuk secara instan lewat iklan dan
media visual, melainkan lewat proses kematangan personal yang bisa jadi
melelahkan dan penuh perjuangan. Seperti yang dilakukan oleh para pahlawan
bangsa ini yang namanya sampai saat ini
begitu manis dikenang.
Demikian pula, perlu dihapus cara berpikir yang parsial terhadap suatu
bentuk kekuasaan. Memang disadari, kekuasaan adalah satu dari sekian hal untuk
melegitimasi identitas tertentu. Namun politik dan identitas adalah dua entitas
yang berbeda, politik adalah serangkaian ilmu tata mengatur masyarakat dan
negara sedangkan identitas sebatas konstruksi terhadap ego. Di luar itu semua,
nilai kemanusiaan adalah hal yang paling urgen untuk diperjuangkan dalam bidang
politik, bukan kekuasaan maupun identitas yang serba eksklusif.
Secara etika politik, stamina identitas yang kian menyeruak ke
permukaan berseberangan dengan konsep tata keseimbangan demokrasi. Politik
tidak menjadi dinamis dengan dipicu oleh semangat individualime fakta yang
menghegemoni realitas. Identitas politik itu sendiri bisa seperti topeng (mask) di wajah yang menutupi kepribadian
(personality). Dalam tradisi kampanye
yang populer kita sering menemukan “topeng” dalam berbagai bentuk, yaitu sikap
yang mencoba menyembunyikan jati diri yang sebenarnya agar orang lain tidak
mengetahui “watak aslinya”.
Di sisi lain, kenyataan yang disuguhkan ke masyarakat adalah topengnya.
Dalam praktiknya pencarian pengakuan identitas tersebut mewujud dalam bentuk
tuntutan kelompok dalam bentuk peran politis untuk ikut dalam menentukan
kehidupan berbangsa dan bernegara. Padahal pada saat yang sama, kenyataan yang
dibentuk oleh polarisasi berbagai media termasuk teks yang saya sebutkan di
atas, mendorong cita-cita semu di tengah fakta kongkrit kemiskinan, pengangguran,
mahalnya biaya pendidikan, dan pelbagai ketimpangan sosial.
Pendekatan humanis yang bisa diusung adalah mengetengahkan sisi
kemanusiaan di atas segala-segalanya lewat pendidikan sedini mungkin. Agar
identitas yang selama ini penting untuk diakui dan dihayati tidak menjadi
tujuan akan tetapi sebatas sarana saja dalam memakmurkan bangsa. Identitas
sebagai salah satu pernak-pernik budaya selayaknya tidak dijadikan aktor utama
yang membius. Dengan demikian, politik akan menemukan peran yang sesungguhnya, yaitu
memperjuangkan hak dan martabat bangsa.
*) Alumnus Psikologi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
*) Alumnus Psikologi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar