Pages

Rabu, 27 Juni 2012

Dongeng untuk Para Pendidik

tertidur aku melihatmu terpingkalpingkal dengan doktor berdasi di balkon
berpongahpongah di gedung megah, menepis aliranaliran kritik yang kupancang
bertubitubi
tertidur aku melihatmu menyetubuhi kenakalanku dengan petaka tak bertepi
adalah setumpuk gairah, menyala di sana, gemetar seperti menyeka musim gugur
di titik nadir kealpaan manusia

dari bebangku kosong: anakanak ladang menyulam
harapan. di sungaisungai, di aliran deras itu,
mereka sibuk berburu ikan hingga menjarah waktu
demi mengais hurufhuruf
demi meretas katakata

tertidur aku mengikuti tingkah lakumu menenteng kertaskertas pemboros
ucapanmu bernanah menodai kupingku di sebuah taman yang teramat pengap
sungguh aku tergerus, mimpimimpiku berlarian kemanamana, membentur karang
tercabikcabik
tertidur aku mengikuti rumusrumus palsumu menyilang seperti lalulintas
sepanjang beriak kata yang kutawarkan kau tilang dengan seribu dogma
di setiap desir kepala menista

ke timur, menuju tepi. saat harapan tinggal seujung
galah. orang tuatua memeras keringatnya,
telah dikulitinya tenaga dan doa berlembarlembar
            demi mencapai takdir
            dengan darahnya sendiri

tertidur aku pada perjamuan makanmu mengelabuhi gerimis hingga tersungkur
beberapa kali kau menyuruhku menatap gemintang, seakan bintangmu itu yang
berbinarbinar
tertidur aku pada ketertutupanmu tentang ketidaktahuan bersama jeratan waktu
di jembatan usiaku yang kian menjalar, kupegang tanganmu erat, menyerabut
di altaraltar kemesraaan

ke barat, menuju muara. setelah mimpi membentang
tengadah. tapi semua masih terasa hambar,
telah kugali cinta, sedang engkau terus mengeja
            demi menggapai ujung
            demi mengenang semenanjung

Yogyakarta-Kandang, 2012 (By: NK)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar