Pages

Senin, 02 Juli 2012

Membangun Optimisme Anak

Oleh: Nuzulul Khair
 
Pendidikan disadari telah merambah ke pelbagai sendi kehidupan masyarakat Indonesia, baik itu pendidikan formal di bangku-bangku sekolah ataupun pendidikan orang tua asuh yang berkembang di lingkungan keluarga. Khusus di lingkungan keluarga, di sini peran orang tua yang sangat menentukan terbentuknya karakter anak. Apabila orang tua mampu menjadi model yang baik maka akan memberikan pengaruh yang baik bagi kepribadian anak. Sebaliknya, model yang buruk dari orang tua tidak mustahil akan melahirkan ekses negatif pada anak.
 
Peran pendidikan orang tua pada anak dinilai terasa penting untuk ditanamkan sejak usia dini. Mengingat, dewasa ini kehidupan global dengan berbagai atributnya begitu mudah dikonsumsi oleh anak nyaris tanpa filter. Tentu saja, semakin canggihnya teknologi informasi mempermudah memperoleh informasi. Meski demikian, hal ini juga membawa kebudayaan dan gaya hidup yang tidak sesuai dengan nilai-nilai luhur yang keberadaannya semakin tergerus.


Pelbagai pengaruh negatif yang seringkali merasuki kehidupan anak-anak di masa perkembangan mereka menuju usia dewasa antara lain seperti: mengkonsumi narkoba atau obat-obatan terlarang, tindak kekerasan seperti tawuran, mabuk-mabukan, dan yang saat ini semakin marak adalah seks-pranikah. Perilaku-perilaku negatif tersebut tidak jarang membidani lahirnya masalah baru seperti terkontaminasi virus HIV, berkembanganya perilaku aborsi atau yang paling naïf adalah bunuh diri karena tidak mampu menanggung masalah.

Oleh sebab itu, hal yang perlu dilakukan adalah menumbuhkan sikap optimis pada anak. Tujuannya adalah agar anak memiliki ketangguhan mental dalam menghadapi tantangan hidup yang kian kompleks. Serta tidak gampang lari dari masalah dan terjerumus pada gaya hidup yang negatif. Seperti kata Martin Seligman, seorang pakar psikologi positif, anak yang optimis akan mampu melihat masalah sebagai tantangan yang harus dipecahkan.

Salah satu cara untuk membentuk sikap optimis pada anak adalah dengan memberikan pujian, dorongan, kasih sayang dan penghargaan. Anak yang diberi label positif semacam ini cenderung berpandangan positif tentang dirinya. Sebaliknya, seorang anak yang seringkali mendapatkan kecaman atau kritik, hujatan dan label negatif yang lain akan membuat mereka merasa skeptis, tidak berdaya, dan merasa tidak berharga.

Selain itu, sikap optimis pada anak akan terbangun apabila orang tua dan guru juga senantiasa menunjukkan sikap optimis terutama sekali di hadapan seorang anak. Pada saat itu pula, seorang anak akan dilingkari oleh harapan yang positif setiap kali meniti fase perkembangan usia dan dalam meniti jalur menuju kesuksesan. Seperti sudah jamak diketahui, guru terbaik adalah pengalaman sedangkan keteladanan adalah pengalaman yang terbaik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar