Oleh: Nuzulul Khair
Pendidikan disadari telah merambah ke pelbagai
sendi kehidupan masyarakat Indonesia, baik itu pendidikan formal di
bangku-bangku sekolah ataupun pendidikan orang tua asuh yang berkembang di
lingkungan keluarga. Khusus di lingkungan keluarga, di sini peran orang tua
yang sangat menentukan terbentuknya karakter anak. Apabila orang tua mampu
menjadi model yang baik maka akan memberikan pengaruh yang baik bagi
kepribadian anak. Sebaliknya, model yang buruk dari orang tua tidak mustahil
akan melahirkan ekses negatif pada anak.
Peran pendidikan orang tua pada anak dinilai terasa
penting untuk ditanamkan sejak usia dini. Mengingat, dewasa ini kehidupan
global dengan berbagai atributnya begitu mudah dikonsumsi oleh anak nyaris
tanpa filter. Tentu saja, semakin canggihnya teknologi informasi mempermudah
memperoleh informasi. Meski demikian, hal ini juga membawa kebudayaan dan gaya
hidup yang tidak sesuai dengan nilai-nilai luhur yang keberadaannya semakin
tergerus.
Pelbagai pengaruh negatif yang seringkali merasuki
kehidupan anak-anak di masa perkembangan mereka menuju usia dewasa antara lain
seperti: mengkonsumi narkoba atau obat-obatan terlarang, tindak kekerasan
seperti tawuran, mabuk-mabukan, dan yang saat ini semakin marak adalah
seks-pranikah. Perilaku-perilaku negatif tersebut tidak jarang membidani lahirnya
masalah baru seperti terkontaminasi virus HIV, berkembanganya perilaku aborsi
atau yang paling naïf adalah bunuh diri karena tidak mampu menanggung masalah.
Oleh sebab itu, hal yang perlu dilakukan adalah menumbuhkan
sikap optimis pada anak. Tujuannya adalah agar anak memiliki ketangguhan mental
dalam menghadapi tantangan hidup yang kian kompleks. Serta tidak gampang lari
dari masalah dan terjerumus pada gaya hidup yang negatif. Seperti kata Martin
Seligman, seorang pakar psikologi positif, anak yang optimis akan mampu melihat
masalah sebagai tantangan yang harus dipecahkan.
Salah satu cara untuk membentuk sikap optimis pada
anak adalah dengan memberikan pujian, dorongan, kasih sayang dan penghargaan.
Anak yang diberi label positif semacam ini cenderung berpandangan positif
tentang dirinya. Sebaliknya, seorang anak yang seringkali mendapatkan kecaman
atau kritik, hujatan dan label negatif yang lain akan membuat mereka merasa
skeptis, tidak berdaya, dan merasa tidak berharga.
Selain itu, sikap optimis pada anak akan terbangun apabila
orang tua dan guru juga senantiasa menunjukkan sikap optimis terutama sekali di
hadapan seorang anak. Pada saat itu pula, seorang anak akan dilingkari oleh
harapan yang positif setiap kali meniti fase perkembangan usia dan dalam meniti
jalur menuju kesuksesan. Seperti sudah jamak diketahui, guru terbaik adalah
pengalaman sedangkan keteladanan adalah pengalaman yang terbaik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar