Pages

Jumat, 24 Desember 2010

Krisis Rasa Malu Kaum Remaja

Oleh: Nuzulul Khair*

Masa remaja merupakan masa yang penuh gejolak. Hal ini dipastikan terjadi karena masa remaja merupakan fase transisi (peralihan) dari masa anak-anak menuju masa dewasa. Pada fase ini lingkungan menuntut remaja berperilaku layaknya orang dewasa, di sisi lain remaja masih terkungkung oleh pikiran kekanak-kanakan yang penuh dengan fantasi.
Seksualitas bisa dikatakan topik yang paling sering menghantui benak remaja. Rasa ingin tahu terhadap seksualitas berkaitan dengan pembentukan hubungan baru yang lebih matang dengan lawan jenis. Patut dikhawatirkan apabila pada masa ini remaja tidak mendapatkan informasi serta arahan yang tepat. Dalam masa transisi ini remaja butuh pegangan (pedoman).

Fakta yang dirilis oleh BKKBN (Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional) tentang meningkatnya angka ketidakperawanan remaja di berbagai kota besar yang mencapai angka 50% termasuk di Yogyakarta, menunjukkan indikasi bahwa remaja belum mendapatkan perhatian yang serius tentang problem seksualitas. Remaja hanya menjadi sasaran ceramah dan nasehat yang tidak berakar pada titik persoalan yang sebenarnya.
Persoalan saat memasuki masa keremajaan, salah satunya persoalan pubertas. Pubertas tidak hanya membawa perubahan pada fisik namun juga pada permasalahan yang dihadapi remaja semakin kompleks seiring dengan perubahan yang terjadi pada segenap dimensi kehidupan. Remaja laki-laki tidak jarang terlibat “gang ugal-ugalan” yang sering disebut crossboys sedangkan remaja putri ingin tampil selalu dipuji (haus puja).

Krisis Rasa Malu

Semakin terbukanya akses informasi membawa perubahan sosial yang drastis dalam kehidupan remaja. Perubahan ini secara otomatis juga berpengaruh pada perubahan norma-norma, nilai-nilai yang dipegang, serta gaya hidup mereka. Remaja yang dulu sangat terjaga kuat oleh sistem keluarga, adat budaya serta nilai-nilai tradisional (local wisdom), telah mengalami pengikisan oleh arus globalisasi dan industrialisasi.
Makin maraknya kasus hubungan seks pra nikah yang menurut budaya ketimuran dianggap tidak terpuji bahkan dilarang mestinya membuat remaja merasa malu. Masyarakat Jawa misalnya, memiliki istilah isin untuk menyebut rasa malu. Rasa malu (isin) menjadi motivasi terkuat masyarakat Jawa untuk menyesuaikan perbuatannya dengan norma-norma yang berlaku di masyarakat. Ungkapan tidak tahu malu (wong ra duwe isin) merupakan kritik yang tajam.
Saat ini remaja mengalami resistensi terhadap rasa malu disebabkan efek dari pergeseran tata nilai. Keadaaan itu tidak menghambat remaja untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan. Tapi tidak semua remaja bisa cepat menyesuaikan diri. Remaja masih terikat sama kebiasaan-kebiasaan lama dan ragu-ragu menghadapi hal baru. Hal ini membuat mereka terpaksa menerima kebiasaan baru yang belum dapat diterima dan menafikan pedoman hidup.
Berkenaan dengan rasa malu, pakar psikologi pendidikan dan sosial Lawrence Kohlberg menyebutnya sebagai tingkatan moral yang tertinggi (dalam Collins dan Gottesman, 1971). Oleh sebab itu, krisis rasa malu pada diri remaja bisa berefek pada krisis identitas. Persoalan ini kerap kali menimbulkan konflik dan penyimpangan perilaku pada remaja terutama bila kontrol sosial lemah atau kacau (chaos).

Butuh Figur

Rapuhnya spirit remaja terhadap budaya malu (shame culture) merupakan cermin dari krisis moral-sosial di lingkungan remaja tinggal. Remaja pun mulai kekurangan rasa bersalah (lack of guilty feeling). Para pemerhati psikologi sosial dan lingkungan seperti John Locke, Schopenhauer, Albert Bandura—untuk menyebut beberapa—menekankan faktor lingkungan berpengaruh pada pembentukan pribadi remaja khususnya orang yang dianggap penting (significant other).
Keterlibatan ajaran moral dan agama yang selama ini diberikan kepada para remaja masih bersifat normatif, belum menjadi daya dorong bagi tumbuhnya kesadaran diri. Peran edukasi yang baik paling tidak harus memenuhi tiga aspek yaitu dimensi kognitif (pengetahuan), rasa (afektif), dan konatif (perilaku). Ranah konatif yang berbentuk keteladan moral saat ini sudah krisis di masyarakat kita. Paling tidak, ranah ini harus dimulai dari lingkungan keluarga.
Peran pendidik, orang tua, dan tokoh-tokoh masyarakat harus menjadi aktor terdepan dalam mengajarkan nilai-nilai keteladan. Apabila orang-orang yang mestinya diteladani di bangsa ini sering menunjukkan sikap-sikap yang inkonsisten antara perkataan dan perbuatan, maka hal ini akan melahirkan kader-kader bangsa yang rapuh dan acuh tak acuh.
Adanya figur ideal dapat menjadi modal sosial yang bisa mengarahkan perilaku remaja ke tindakan-tindakan yang berkarakter positif. Mengubah perilaku remaja tidak bisa serta merta dengan nasehat an sich. Jika pengubahan hanya berdasarkan nasehat tanpa keteladan, hanya akan membuat remaja terombang-ambing dalam menghadapi realitas kehidupan yang semakin penuh dengan godaan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar