Oleh: Nuzulul Khair
Saya memulai tulisan sederhana ini dengan sedikit bercerita. Saat sedang liburan kuliah bertepatan dengan bulan suci ramadhan, tanpa sengaja saya mendengar berita dari tetangga. Berita itu tidak lagi prestisius padahal menimpa orang yang begitu prestisius. Saat Ibrohim yang diduga Nurdin M. Top digrebek di Temanggung, media seakan berlomba-lomba menayangkannya. Para pejabat, dosen, mahasiswa, penjual angkringan tidak melewatkan sekejap mata pun untuk mengikuti detik-detik penyergapan. Mengapa fenomena ini tidak terjadi saat NMT asli terbunuh di Solo? Beritanya pun biasa-biasa saja.
Kegelisahan di atas memicu saya untuk berpikir ulang tentang pada level apa sebenarnya teroris yang selama ini kita persepsikan. Banyak asumsi yang berkembang, cendekiawan dan kaum intelektual sebagian dari mereka mengatakan tindakan kejam itu muncul sebab sempitnya paham keagamaan para bomer. Kaum politikus menilai hal ini tidak terlepas dari politik luar negeri. Hal ini cukup beralasan, itu sebabnya mengapa bom itu meledak di Jakarta bukannya di Papua sana? Sebab Jakarta adalah ruh Indonesia yang beritanya akan cepat tersebar ke ranah dinamika politik internasional.
Akan tetapi, berbicara masalah teroris seperti yang tetangga saya bilang, bukan hal yang baru dan pantas untuk digembar-gemborkan. Apa pasal? Aksi terorisme sudah tua seperti umur umat manusia itu sendiri, yang berbeda cuma fasilitasnya yang lebih modern. Mungkin kita juga masih kalah profesional sama Iblis dan keturunannya yang berpuluh juta tahun lamanya hingga kini masih konsisten meneror umat manusia. Bahkan Iblis punya pengikut di luar rasnya sendiri, yakni manusia dan cucu-cucunya.
Penyesuaian Diri Teroris?
Sebenarnya saya sendiri tidak terlalu paham berbicara di wilayah ini, sebab terlalu berat bagi saya jika harus berbicara masalah kriminal menggunakan pendekatan ilmu yang baru saya pelajari. Tapi, di sinilah tantangannya. Menurut saya, para pelaku teror maupun yang dijadikan pengantin untuk aksi pengeboman bukanlah orang yang mengalami gangguan jiwa seperti psikopat dan yang lainnya. Mereka normal saja dari sisi kepribadian, cuma ada faktor mental yang tidak berjalan searah dengan penyesuaian dengan lingkungan.
Penyesuaian diri begitu penting agar seseorang bisa survive dalam suatu tekanan apapun, bahkan tekanan yang tidak kita sadari sendiri. Terlebih lagi, meminjam bahasa Bastaman (1995), bahwa salah satu wawasan kesehatan mental adalah berorientasi pada penyesuaian diri. Saya kira, para teroris ini mengalami masalah dalam penyesuaian diri (adjusment). Penyesuaian diri berhubungan dengan bagaimana berhubungan antara diri sendiri dengan orang lain yang benar. Sedangkan para pelaku teror, cuma ingin melakukan penyesuaian sempit dengan komunitas dan kepentingan tertentu saja yang sifat kepeduliannya parsial.
Mengapa manusia perlu penyesuaian?
Manusia perlu melakukan penyesuaian yang pertama, agar bisa meningkatkan pengetahuan. Pengetahuan ini tidak hanya berhenti di wilayah ilmu akan tetapi juga sampai ke wilayah makna. Pengetahuan yang sedikit tentang suatu maka akan berakibat fatal terhadap kehidupan. Mengetahui sedikit tentang makna jihad, maka akan menjadi pengantin (bomer yang konyol dan hanya meregang nyawa tanpa ada makna). Begitu pula mengetahui sedikit tentang politik, akan meneror mental kita sendiri untuk melakukan aksi penelikungan kepentingan. Setelah itu, muncullah aksi heroik mengatasnamakan Tuhan dan keadilan.
Kedua, manusia perlu melakukan penyesuaian karena setiap individu itu memiliki yang namanya harapan. Pada khususnya, individu yang memiliki harapan yang cukup ideal dan tinggi. Jadi, harus bisa diukur apakah harapan untuk mati syahid tersebut sudah relevan dengan kenyataan hidup yang dialami. Di Afganistan, mungkin kenyataan ini bisa diterima sebab di sana memang daerah konflik yang kongkrit. Beda halnya dengan Indonesia, harapan seperti ini malah bisa menjadi beban mental yang berkepanjangan bahkan bisa turun-temurun.
Ketiga, manusia perlu penyesuaian karena memiliki kehendak bebas. Kebebasan bagi kita dibatasi oleh kebebasan orang lain. Hal inilah yang kemudian tidak diindahkan dan tidak dipahami oleh para pelaku teror. Oleh karena itu, dengan adanya fitrah kebebasan tersebut, maka perlu yang namanya batasan-batasan melalui nilai-nilai yang sudah melekat pada diri kita. Nilai ini yang kemudian akan mengantarkan manusia untuk lebih kritis menilai dan lebih bertanggungjawab terhadap apa yang sedang diperbuat dalam kehidupannya.
Proses penyesuaian itu sendiri akan bertentangan apabila; kita melakukan apa yang tidak ingin kita lakukan atau merasakan apa yang tidak ingin kita rasakan, atau dalam bahasa yang lebih sederhana harapan tidak sesuai dengan kenyataan. Sedangkan penyesuaian yang baik tidak hanya berdasarkan perilaku yang nampak, akan tetapi juga dipengaruhi oleh situasi dan nilai yang dianut. Indontrinasi nilai yang selama ini diberikan kepada para pengantin calon pengebom yang rata-rata masih muda, merupakan nilai yang keliru dan tidak etis.
Sedangkan dampak dari kegagalan penyesuaian diri, akan mengganggu terhadap diri sendiri, seperti frustasi, stress, konflik batin dan semacamnya. Juga berpengaruh negatif terhadap orang lain dan lingkungan. Konflik yang berakhir dengan anarki di Indonesia merupakan efek dari kegagalan penyesuaian, termasuk pola tindakan bom bunuh diri merupakan tindakan kegagalan penyesuaian diri yang amat fatal.
*disampaikan pada diskusi malam kandang, 3 Oktober 2009

Tidak ada komentar:
Posting Komentar