“Masa
lalu biarlah masa lalu”, begitu kira-kira lirik dari sebuah lagu. Lagu ini
cukup populer di telinga masyarakat tanah air. Dalam dunia psikologi khususnya
bidang terapi istilah “masa lalu” juga merupakan istilah yang tidak asing baik
bagi kalangan ilmuan psikologi, terapis bahkan bagi seorang klien. Terdapat ungkapan terjebak
pada masa lalu, tidak bisa terlepas dari masa lalu, masa lalu yang suram dan
sebagainya. Apa sebenarnya yang dimaksud dengan masa lalu dalam konteks terapi? Apakah
perlu untuk mengakses masa lalu kita?
Masa lalu dalam
konteks terapi, berbeda dengan masa lalu seperti yang dimaksud dari
penggalan lirik lagu di atas. Masa lalu bukanlah semata-mata peristiwa yang
telah lalu tetapi lebih pada peristiwa unik yang membekas pada usia anak-anak. Kenapa
usia anak-anak? Pada usia anak-anak critical
factor belum terbangun. Setiap hal yang ditangkap, kejadian positif ataupun
negatif masuk tanpa filter karena belum berkembangnya faktor kritis. Ibaratnya seperti
kaleng diisi hal bermacam-macam tanpa saringan.
Saat usia dewasa, bisa saja terdapat problem psikis yang berkelindan dengan kejadian yang terjadi di masa lalu. Namun yang perlu dipahami, kejadian yang terjadi di masa lalu belum menjadi masalah saat kejadian itu pertama muncul. Hal ini lebih pada efek bola salju dari sebuah kejadian tertentu di masa lalu yang diikuti oleh kejadian-kejadian yang mirip. Pada awalnya bola salju itu kecil setelah lama menggelinding dari atas ke bawah akan menjadi bola salju yang besar. Apabila bergesekan dengan sebuah momen psikologis tertentu tidak menutup kemungkinan akan menjadi masalah yang serius.
Saat usia dewasa, bisa saja terdapat problem psikis yang berkelindan dengan kejadian yang terjadi di masa lalu. Namun yang perlu dipahami, kejadian yang terjadi di masa lalu belum menjadi masalah saat kejadian itu pertama muncul. Hal ini lebih pada efek bola salju dari sebuah kejadian tertentu di masa lalu yang diikuti oleh kejadian-kejadian yang mirip. Pada awalnya bola salju itu kecil setelah lama menggelinding dari atas ke bawah akan menjadi bola salju yang besar. Apabila bergesekan dengan sebuah momen psikologis tertentu tidak menutup kemungkinan akan menjadi masalah yang serius.
Semisal,
ada seseorang ketika usia anak-anak pernah dimarahi dengan kasar oleh orang
tuanya karena lupa bait saat lomba baca puisi, ia dimarahi saat itu juga, di
atas panggung. Hal ini akan memberi kesan yang tidak nyaman pada anak. Kejadian
tidak nyaman di depan publik ini apabila berulang-ulang akan terpolakan dan membentuk
jalur saraf tersendiri di otak, yakni sirkuit otak yang sensitif pada publik. Bukan
hal yang mustahil akan memunculkan gangguan kecemasan berbicara di depan
publik.
Oleh sebabnya, tidak jarang seorang terapis terkadang perlu menggali akar
masalah di masa lalu atau Initial
Sensitizing Event (ISE) untuk menyelesaikan problem psikologis klien. Meski
begitu, seorang terapis tidak harus selalu menggali masa lalu, hal ini
tergantung pada banyak hal seperti intensitas emosi, kedalaman masalah dan
faktor-faktor lain. Jika intensitas emosi rendah biasanya seorang terapis fokus
pada here and know dan tidak jarang
pula pada future condition.
Mengakses masa lalu bisa dengan jalur hipnosis. Teknik yang dipakai biasanya
age regression. Kenapa age regression? Karena kita terkadang
perlu untuk kembali ke masa-masa ‘culun’ agar kita bisa berkenalan dengan masa
lalu. Jika sudah kenal dengan masa lalu maka akan lebih mudah untuk berdamai
dengannya. Sekali lagi, saya ulangi, perlu untuk kembali ke masa-masa 'culun'
untuk bisa berdamai baik dengan diri kita sendiri maupun dengan orang lain.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar