Puluhan anak kecil itu terlihat asyik dengan potongan lidi di mulut mereka. Tangan mereka lincah menuding teman anggota permainan yang lain. Ya, kala itu mereka sedang mengikuti salah satu aktifitas Brain Gym yang saya pandu. Ada yang meriung di belakang mereka, yaitu adik-adik yang masih kecil. Tak ketinggalan pula, para ibu-ibu juga terlibat walaupun hanya sekedar menjadi penonton.
Mushalla Peden Gunung, Baturono, Salam, Magelang (tempat saya KKN) itu pun jadi berisik. Suara anak-anak berbaur riuh dengan suara tawa lepas yang mereka tumpahkan. Selain berebut untuk menjadi yang terbaik di permainan yang sedikit berbau kompetisi dan edukasi tersebut, mereka juga berebut untuk menyatakan bahwa dirinyalah yang paling riang sore itu.
Brain Gym atau senam otak merupakan salah satu serangkaian latihan berbasis gerakan tubuh sederhana. Gerakan itu dibuat untuk merangsang otak kiri dan kanan (dimensi lateralitas); meringankan atau merelaksasi belakang otak dan bagian depan otak (dimensi pemfokusan); merangsang sistem yang terkait dengan perasaan/emosional, yakni otak tengah (limbis) serta otak besar (dimensi pemusatan).
Menurut Paul E. Denisson Ph.D., ahli senam otak dari lembaga Educational Kinesiology, Amerika Serikat, meski sederhana, brain gym mampu memudahkan kegiatan belajar dan melakukan penyesuaian terhadap ketegangan, tantangan, dan tuntutan hidup sehari-hari. Pakar penelitian otak inilah yang pertama kali memperkenalkan metode terapi ini di Amerika, 19 tahun silam.
Saat berkutat di TPA, sungguh tak nyaman rasanya jika seandainya saya tidak mengadakan program Brain Gym. Apa pasal? Sebab, walaupun dengan metode yang sederhana Brain Gym cukup efektif di dalam meningkatkan kreatifitas anak. “Besok ada lagi lagi kan, Mas,” kata Afdhol, 11 tahun, salah satu murid TPA yang sudah mulai kecanduan. Demi hasil yang maksimal, tak lupa saya mengadakan Pre-test dan Post-test sebagai tolak ukur keberhasilan pelatihan tersebut.
Namun, hal penting yang hendak saya utarakan dicatatan ini bukan berhubungan dengan Brain Gymnya, melainkan pada pentingnya menyikapi gelagat emosi anak-anak yang sulit ditebak. Anak-anak yang riang itu bisa jadi merupakan salah satu indikator bahwa mereka antusias dengan kegiatan yang sedang kita laksanakan. Tetapi di sisi lain, anak juga memiliki tingkat ‘kecemburuan’ yang cukup tinggi. Tidak jarang mereka berebut satu sama lain guna mendapat perhatian dari pemandunya.
Oleh sebab itu, sebagai bahan refleksi apabila kita sedang melakukan sesi pelatihan semacam Brain Gym tidak diselingi dengan pemberian hadiah di akhir sesi. Semisal, menobatkan beberapa anak yang dinilai punya kecapakan yang bagus selama mengikuti pelatihan. Mengapa? Sebab, aktifitas anak pun tidak berjalan secara natural, terkesan dibuat-buat. Nah, ini nih yang berbahaya …. Kalau tidak percaya, silahkan praktek?:)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar