Pages

Selasa, 19 Oktober 2010

Orang Gila

‘Orang gila’, sebutan ini tentunya sudah tidak asing di telinga. Di masyarakat kita, banyak sekali ditemukan istilah yang mewakili kondisi orang tersebut, yang kalau di dunia psikologi dikenal dengan skizofrenia (yang di jurusan psikologi mesti paham). Skizofrenia secara sederhana bisa dipahami sebagai orang yang sakit akut secara psikologis.

Kenapa disebut sakit?

Biasanya, term sakit diperuntukkan bagi sesuatu yang sedang tidak berfungsi seperti biasanya, entah itu karena ada something error dan semacamnya. Orang yang mengalami skizofrenia fungsi kesadarannya tidak berfungsi seperti orang kebanyakan. Orang tersebut sadar, tetapi kesadaran itu hanya berkutat pada frame pikirannya sendiri.


Saya akan mengutarakan sebuah ilustrasi. Pada suatu malam, saya sedang ke warung burjo (bubur kacang ijo) untuk menghangatkan badan dengan minum secangkir kopi susu. Di saat perjalanan menuju burjo, saya berpapasan dengan orang-orang yang tidak saya kenal. Patut ditebak, tidak ada yang menyapa saya, sebab untuk sementara waktu saya berada di luar kesadaran mereka, begitu pula sebaliknya. Minimnya tingkat kesadaran terhadap suatu objek tersebut, menyebabkan turunnya intensitas sebuah kepeduliaan, perhatian, apalagi keterikatan.

Nah, yang terjadi pada orang yang mengalami skizofrenia tingkat kesadaran pada objek di luar dirinya tumpul. Ibarat kesadaran yang terpenjara dalam ruang gelap, atau bahkan kesadaran yang terlampau liar sehingga tidak terkendali.

Mengapa orang mengalami sakit psikologis?

Saya tidak akan menjelaskan secara teoritis, namun dengan ulasan-ulasan sederhana saja yang mirip sebuah dongeng.

Alkisah, ada orang (sebut saja si A) jatuh cinta (teramat sangat amat) pada seseorang. Sudah 3 tahun orang tersebut menyimpan perasaan itu, tetapi tetap saja tidak sanggup (malu) untuk mengutarakannya. Siang malam gelisah, aktivitas sehari-hari pun makin tak jelas karena berhadapan dengan kekhawatiran dan ketidakpastian. Pada saat mengutarakan cinta tiba-tiba ditolak. Yang dicinta ternyata sudah punya pujaan hati.

Akhirnya si A menyalahkan dirinya sendiri atau self blame, merasa dirinya bodoh dan tidak berharga. Si A pun mulai tidak peduli dengan kehidupannya, dengan aktivitasnya, dan situasi-situasi di luar dirinya. Pikiran si A terkuras habis hanya untuk memikirkan kesalahan fatal yang telah dilakukannya dengan mengurung diri di kamar.

Hari demi hari pun berlalu, si A tiba-tiba suka bicara sendiri, jarang mandi, terkadang menangis tanpa sebab, memukul tembok, dan terkadang tertawa lepas.

Nah, kalau kita menemukan orang di sekitar kita yang punya gejala mirip dengan si pitung, alangkah baiknya kita peduli sebelum si A tambah gawat :), Kepedulian kita berbentuk supporti (bentuknya macam-macam), yang nantinya bisa mengembalikan si A menjadi orang yang tetap optimis menjalani hidup.

Selama orang yang sedang sakit secara psikologis tersebut, atau seperti kondisi yang terjadi sama si pitung, masih bisa berinteraksi dengan kita (bisa membedakan antara khayalan dan kenyataan), berarti belum masuk pada taraf skizofrenia.

Benang merah yang bisa dipetik: mari kita hidup dengan penuh syukur, tidak terlalu mengharapkan sesuatu yang sulit untuk kita capai, introspeksi diri, dan senantiasa berbagi.

Sehat itu indah, sehat itu nikmat !!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar