Pages

Sabtu, 09 Oktober 2010

MEMBAJAK JIWA UNTUK MEMAHAMI KONFLIK ANTAR GOLONGAN

Oleh: Nuzulul Khair

Pengantar 

Di temani Caffucino Coffee, saya sebenarnya belum punya motivasi untuk menulis tentang tema di atas. Bagi saya, saat ini masih terlalu dini untuk terlalu berterus terang menelanjangi konflik dari perspektif Psikologi. Apa pasal? Sebab selama ini psikologi belum punya bangunan teoretis yang pas untuk mengkaji konflik layaknya teori konfliknya Sosiologi. Kecuali, bahasan yang berkaitan dengan konflik intrapsikis, psikologi sudah lama bahkan sampai jungkir balik mengkaji dari waktu ke waktu. Akan tetapi, setelah melihat judul salah satu berita di koran Tempo beberapa waktu yang lalu, “Afrika Berdarah” dan dijudul lain “Timika bergolak”, saya merasa tidak punya alasan untuk melakukan defense, mau tidak mau saya harus menuliskannya, demi menimbang kembali problem separatisme dan masa depan kemanusiaan.


Mengapa “membajak”?
Istilah membajak dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, dipahami sebagai upaya melakukan perompakan; mengambil alih secara paksa. Istilah membajak di sini saya pakai dengan maksud bagaimana dalam mengkaji konflik antar golongan tidak dengan dari cara pandang sempit (menarik ke dalam), melainkan dengan perspektif berbasiskan fenomena (realitas). Jika kemudian menggunakan kajian psikologi yang cenderung ke dalam atau berbasiskan ketidaknormalan, maka saya yakin tidak akan menyentuh pada persoalan yang sedang dikaji, sebab ini konteksnya sosial. Dengan kata lain, dengan tanpa bermaksud menghakimi, selama ini psikologi belum “luwes” dalam menilai suatu permasalahan yang terjadi di masyarakat. Padahal, teori psikologi lumayan “ampuh” dan dikenal konsisten, tetapi terkadang dipecundangi oleh manipulasi fakta.

Psikologi Menilik Konflik
Di dalam psikologi lintas budaya, konflik adalah suatu term yang jamak dipakai untuk mengindetifikasi suatu hal yang dinilai ada ketidaksesuaian antara harapan dan kenyataan, baik itu harapan-harapan individu maupun harapan-harapan kelompok. Masing-masing kelompok mempunyai cara-cara tersendiri dalam memandang suatu konflik, bagi kebudayaan yang sifatnya kolektivis, biasanya memandang konflik dari dua sisi, yaitu “positive face” dan “negative face”. Sedangkan bagi latar kebudayaan individualis, fokus dari hal-hal itu adalah aku, yang berupaya memperlihatkan kualitas-kualitas positif dan menyembunyikan atau memaafkan kualitas-kualitas negatif.

Di dalam kebudayaan kolektivis, maka pemeliharaan keselarasan di dalam tubuh kelompok atau golongan merupakan tujuan utama yang perlu dicapai dalam “positif face”. Konflik pun bisa menjadi salah satu jalan penyelesaian yang penting tercapai yang namanya keselarasan. Beda halnya dengan kebudayaan individualis, jika terjadi konflik atau sedang ada ketidaksesuaian antara harapan dan tuntutan realitas, bahaya bukan terletak pada aku yang dipermalukan atau terinjak-injak harga diri dan kebijakan sosialnya, melainkan membaca tanda-tanda pontensi yang akan dimunculkan dari konflik tersebut, sehingga sesuatu yang dirasa tidak menguntungkan dapat dicegah. Jadi, kesimpulan saya yang kolektivitis “menyelamatkan muka”, yang individualis “menyelamatkan kepentingan”.

Dilema Emosi ke “Gatal Kognitif”
Saya ingat salah satu penjelasan dosen di kelas, bahkan rasio itu sifatnya berdimensi kausalitas, sedangkan emosi itu ambivalensi, dan kepribadian itu berdimensi reflektif. Terlepas dari pemaknaan yang pas atau tidak, ambivalensi dalam emosi ini saya pahami seperti ini, terkadang seseorang apabila bertindak hanya berlandaskan ikatan emosi semata, maka belum tentu sikap yang dimunculkan dalam menangani masalah akan efektif dan tetap sasaran.

Tetapi, bukan hal yang mudah untuk bertindak lepas secara natural dari ikatan emosi (dalam hal ini kelompok atau golongan tertentu), sikap pertama kali yang dimunculkan adalah keinginan untuk membela kelompok yang sedang kita “kelimpungi” selama ini. Entah sikap kelompok itu baik atau tidak, kalau sudah ada ikatan emosi yang kuat, bisa jadi untuk mendapatkan kejernihan nalar dan kejernihan tindakan. Di sinilah kemudian kognisi atau pikiran kita akan terasa gatal sebab ada di antara dua pilihan. Antara mengikuti kecenderungan kelompok yang secara nyata-nyata mengarah pada separatisme dan integrasi, atau mengikuti nalar logis demi kebaikan hal-hal yang sifatnya lebih universal?. Sekian Coy ...

Note: “Gatal Kognitif”, meminjam bahasa penerjemah buku The Extraordinary Healing Power of Ordinary Things karya Larry Dossey, M.D.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar