Sebagai seorang pecinta buku, saya tertarik untuk membingkas pentingnya buku sebagai terapi masalah-masalah kehidupan. Buku sekarang bukan lagi milik penerbit, pembaca, pebisnis, penulis, perpustakaan, dan toko buku. Melainkan milik orang-orang yang menghendaki dirinya keluar dari segudang masalah apapun bentuknya, solusi bagi pelbagai problem yang berbelit-belit, menggapai ketenangan, rasa damai, dan gayung elastis untuk menggapai ketentraman jiwa.
Biblioterapi merupakan salah satu terapi kejiwaan yang cukup nge-trend di kalangan pemerhati psikologi. Karena selain ampuh, metode ini terkesan mudah untuk diaplikasikan dalam proses penyembuhan. Kita hanya membutuhkan bahan bacaan yang sekiranya sesuai dengan kesenangan kita, secara otomatis kita akan mendapat sugesti emosi yang positif,. Selanjutnya, hasil bacaan kita secara tidak langsung akan membidani lahirnya kesadaran reflektif sebagai terapi penyembuhan.
Saya sebagai pembaca yang malas, secara sadar memaafkan kecintaan saya membaca buku sejak menjadikan bahan bacaan tidak hanya sebatas meraup ilmu pengetahuan, informasi, dan sebagainya. Membeli buku dulu saya anggap sebagai proses untung-untungan, antara dibaca dan sekadar pajangan. Karena saya pernah berpikir bahwa saya membaca karena untuk kebutuhan yang lain, seperti pintar berdiskusi, mendapat Indeks Prestasi (IP) tinggi, dan orientasi yang bersifat pragmatis lainnya.
Dalam benak saya baru tersirat bahwa membaca dapat meminimalisir persoalan-persoalan yang sedang kita hadapi dalam hidup ini, sekaligus kedamaian setelah mengadakan eksperimen. Sedekat ini saya menyimpulkan buku yang bisa dijadikan alat terapi jiwa, adalah buku apa saja yang bernilai positif dan beranggapan bahwa tujuan membaca adalah untuk membaca itu sendiri, bukan untuk yang lain.
Selamat membaca kawan ... (NK, 19 Mei 2012)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar