Sudah menjadi rahasia umum, kalau orang Madura tidak mengenal kata hijau. Bukan berarti buta pada warna hijau, hanya saja tidak memiliki istilah yang familiar dalam kamus kesehariannya. Untuk menyebut hijau orang Madura biasanya menggunakan istilah “biru” atau dengan penekanan “biru daun”.
Karenanya, tidak jarang mereka salah dalam memersepsikan hijau. Kasus yang paling sering terjadi misalnya dalam urusan administrasi, seringkali tertukar antara map hijau dengan map biru. Fenomena yang cukup menggelikan ini tidak hanya dialami oleh orang tua-tua, tapi juga kaum muda misalnya pada saat melengkapi syarat administratif di Perguruan Tinggi.
Sepertinya, biru dan hijau mengandung nilai penghayatan tersendiri bagi orang Madura, seperti sudah terkonstruksi di pikiran bawah sadar mereka bahwa hijau adalah biru dan biru adalah hijau itu sendiri. Agaknya ‘warna’ itu tampil mirip dalam proses yang berlaku di dalam lalu lintas berkesadaran orang Madura.
Terkait warna, sebenarnya tubuh manusia mengandung sebuah spektrum warna yang setiap warna-warna tersebut menunjukkan taraf kesadaran yang berbeda.Warna dasariah manusia adalah merah yang menunjukkan naluri bertahan hidup, vitalitas atau energi. Dan, warna merah masih berada pada taraf kesadaran diri atau kesadaran individual. Oleh sebab itu, bagi orang-orang yang masih berkesadaran merah, tidak terpikirkan keinginan untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri. Di lain pihak, beberapa tim sepak bola menggunakan warna merah sebagai warna kaos kebanggaan. Sebagai upaya sugestif agar para pemain tetap berjuang dan tidak cepat menyerah selama pertandingan berlangsung.
Naik satu tingkat, kesadaran di atas merah adalah kuning. Kuning adalah kesadaran sosial. Orang yang berkesadaran kuning, ia tergolong yang peduli dengan kebersamaan dan toleransi. Niscaya kuning tidak menjadi sesuatu yang otoriter, melainkan solider, mungkin begitu adagiumnya.Naik lagi satu tingkat, kesadaran di atas merah adalah hijau. Hijau identik dengan sesuatu yang fresh, hijau adalah kesadaran cinta. Kesadaran semacam ini lebih nampak ketika menghadapi apa yang disebut dengan ketulusan, kasih sayang atau saling mengasihi. Dengan begitu bisa dikatakan, bila hijau tak lagi tegak dalam berkesadaran seseorang, ia rentan terjebak di alam propaganda. Berkesadaran Hijau—ia senantiasa menuntun kita pada yang “indah”. Setelah hijau adalah biru. Kesadaran biru cukup lekat dengan kesadaran hijau. Hanya saja, biru melambangkan sebuah cinta yang transenden—dan di sini, yang tersadari adalah kualitas cinta yang ilahiyah. Oleh karena itu, berkesadaran biru nyaris tak terpisahkan dengan berkesadaran hijau.
Apakah penghayatan atas keintiman warna hijau dan biru, yang membuat orang Madura sampai sekarang terkadang pangling dengan kedua warna ini? Entahlah… Wallahu’alam“Warnamu Kesadaranmu”.
NK, Nogopuro-YK, 5/11/12).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar