bagimu Tuhan
kupersembahkan doa
dari lirih kecil yang kusunsun
menjadi proyek musiman
antara derita dan bahagia
kutebas gerhana masa lalu
masa kini sisa gulita
tak ada tepian cahaya
membingkas daya takwa
semoga lintingan harap ini
bisa kuledakkan menjadi
bom waktu keimanan
bagimu malaikat
kupinjam sayap
tuk menaungi para petani
kulit mereka lebam dicakar
sinar kemunafikan
perjuangan menjadi penjara
saat kuasa berkelamin agama
saat makan bukan selera
tapi nafsu dan fantasi
bagimu para nabi
bingkai kembali seribu sabda
tentang indahnya perdamaian
kumohon dengan panggang
haru
atas kematian tanpa ratap
bagimu para penyair
kata-kata bukanlah teka-teki silang
laut kau cipta sajak
sementara ikan tak nafsu makan
kala menafsir sajakmu yang kering persoalan
tak ada getar dunia, kawan
selain percikan kata kati
bagimu penggila birokrasi
ku tak mengerti kebijakanmu
ku tak mengerti makna tanda tanganmu
yang memiskinkan nurani
belum mati tapi kami sudah suri
diterpa persoalan yang kau buat
dan langkalah
kebenaran-kebenaran itu
untukmu para selebriti
tubuhmu kian sintal berliuk
membuatku tidak selera pada berita
tentang nasib tanah airku
bagimu dunia
bungkus doa-doaku
menjadi hidangan sejuk
di leliukan panas yang kian gelora
Yogyakarta 12 Agustus 2009
Tidak ada komentar:
Posting Komentar