Seperti halnya pepatah, “tak kenal maka tak sayang”,
maka untuk menyayangi dan mencintai Al-Qur'an adalah dengan mengenalnya secara
lebih dekat. Salah satu cara untuk mengenal Al-Qur'an secara lebih dekat adalah
dengan mempelajari segala aspek keilmuan yang bisa menunjang pemahaman kita
terhadap Al-Quran dan menambah kemantapan hati kita ihwal kebenaran Al-Qur'an.
Terdapat beberapa bidang keilmuan untuk mengenal Al-Qur'an
secara lebih intim, yakni ilmu yang terkait dengan pengumpulan Al-Qu'ran, proses
pewahyuan, asbabun nuzul, nasikh-mansukh, makki-madani, dsb. Menurut Prof. Quraish Shihab di majalah “Ulumul
Qur'an”, segala aspek keilmuan yang mendukung pemahaman dan bukti kebenaran
Al-Quran masuk kajian Ulumul Qu'ran.
Selain menambah kecintaan, arti penting belajar
Ulumul Qur'an adalah agar kita bisa membela Al-Qu'ran dari para pengkritik. Ibaratnya,
ketika kita menyayangi sesuatu kita akan membela apabila sesuatu yang kita sayangi dikritik apalagi dihina
oleh orang lain. Merupakan hal yang naif apabila kita tidak tahu dan tidak
memiliki amunisi untuk membelanya.
Terlebih lagi, Al-Qur'an sebagai teks, tidak akan
pernah luput dari kritik. Teks itu sendiri menurut Ali Harb di dalam buku “Kritik
Nalar Al-Qur'an” menyatakan teks tidak membicarakan kebenaran, tetapi membuka
hubungan dengannya. Dengan belajar Ulumul Qur'an, baik langsung maupun tak
langsung kita belajar melakukan kontekstualisasi teks.
Upaya kontekstualisasi teks Al-Qur'an merupakan hal
yang penting, agar kita bisa menemukan relevansi ayat dengan persoalan kehidupan.
Salah satu cabang ilmu yang bisa dipelajari adalah ilmu asbabun nuzul. Ilmu asbabun
nuzun merupakan ilmu yang mempelajari tentang sebab-sebab diturunkannya
ayat. Dengan mempelajari ini, kita bisa mempelajari hikmah di balik diturunkannya
ayat.
Salah satu persoalan yang bisa kita temukan
jawabannya di dalam Al-Qur'an adalah cara Islam mendidik anak. Konsep-konsep
seperti pendidikan moral dan kognitif bisa kita temukan dalam makna ayat-ayat
yang terkandung di dalam Al-Qu'ran, misalnya perintah untuk berbuat baik kepada
kedua orang tua yang termaktub pada Qs. Al-Isra’
(17): 23.
Konsep pendidikan moral anak secara lebih spesifik
termaktub dalam Qs. Al-Isra’ (17): 23-24, yakni menyangkut ketidapantasan
seorang anak meluapkan kemarahan pada kedua orang tua, walaupun hanya dengan
kata “Uf” atau “Ah”. Karena hal itu bisa menyakiti perasaan kedua orang tua.
Syekh Khalid bin Abdurrahman Al-‘Akk di dalam bukunya Tarbiyatul Abna’ wal Banat fi dhauil Qur'an
wassunah menjelaskan bahwa orang tua saat memasuki fase senja, menjadi
pikun dan lemah. Ucapan “Ah” saja bisa terdengar menyakitkan karena orang yang
sudah lemah dan tidak berdaya sensitif terhadap apapun saja yang menyakitkan.
Tentu saja, masih banyak hikmah-hikmah yang dapat
kita dapatkan apabila kita mendalami kandungan ayat yang terkandung di dalam
Al-Qur'an. Saat ini, banyak fakta-fakta di dunia pengembangan teknologi modern yang
mengambil dari makna yang terkandung di dalam ayat-ayat Al-Qur'an. Hikmah-hikmah
tersebut bisa menjadi modalitas kita sebagai orang Islam untuk memajukan Islam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar