Judul Buku:
Psikologi Dzikir
Penulis: M.A.
Subandi. PhD
Penerbit:
Pustaka Pelajar
Tahun Terbit:
Agustus 2009
Kehidupan manusia
tidak luput dari yang namanya peperangan, baik peperangan fisik maupun
peperangan batin. Aspek peperangan fisik merupakan suatu tragedi
berkepanjangan, efeknya bisa meluluhlantakkan peradaban umat manusia. Sedangkan
peperangan batin efeknya juga bisa meluluhlantakkan kehidupan umat manusia
dengan tumpulnya hati nurani. Peperangan fisik terjadi disebabkan oleh congkak
dan kesombongan yang telah mengamputasi hati nurani.
Aspek fisik dan batin merupakan entitas yang melekat pada diri orang –orang yang mengaku beragama. Sedangkan perilaku beragama yang menyisakan tragedi sudah lama mengakar dalam masyarakat. Bahkan, hal itu tidak hanya menimpa umat Islam saja, tetapi juga terjadi pada umat agama lain. Perkembangan ini tidak memuaskan kebutuhan batin mereka, bisa dilihat dengan perilaku-perilakunya yang masih kering kerontang. Agama terasa sebatas hal yang sifatnya ritual yang dilakukan bukan untuk kebutuhan melainkan kewajiban yang mencekik.
Aspek fisik dan batin merupakan entitas yang melekat pada diri orang –orang yang mengaku beragama. Sedangkan perilaku beragama yang menyisakan tragedi sudah lama mengakar dalam masyarakat. Bahkan, hal itu tidak hanya menimpa umat Islam saja, tetapi juga terjadi pada umat agama lain. Perkembangan ini tidak memuaskan kebutuhan batin mereka, bisa dilihat dengan perilaku-perilakunya yang masih kering kerontang. Agama terasa sebatas hal yang sifatnya ritual yang dilakukan bukan untuk kebutuhan melainkan kewajiban yang mencekik.
Aplikasi
pendekatan kuantitaif dalam beragama sebenarnya sudah banyak menuai kritik.
Kehidupan beragama semacam ini cuma menitikberatkan pada pelaksanaan kewajiban
saja layaknya upacara, tidak menyentuh pada nilai penghayatan di balik
pelaksanaan ibadah yang sedang diniatkan. Padahal agama merupakan fenomena
pengalaman batin yang begitu komplek dan membutuhkan perenungan yang mendalam.
Maka hal yang wajar, ketika saat ini perlu kiranya ditengahkan kajian-kajian yang berkaitan dengan konversi dalam beragama. Istilah konversi ini banyak ditemukan dalam kajian psikologi agama. Konversi adalah fenomena perubahan kehidupan beragama yang dramatis. Istilah konversi dalam buku ini, diistilahkan dengan transformasi religius. Telah jamak diketahui terdapat dua perubahan orientasi beragama, yaitu konversi bisa (ordinary religious life) dan konversi berbasis penghayatan yang mengarah pada mistik (mystical religious life).
Salah satu media
untuk mendapatkan penghayatan keberagamaan adalah melalui dzikir. Dzikir
merupakan salah satu model untuk mengantarkan seseorang pada konversi mistik. Amalan
dzikir dibagi menjadi dua bentuk. Pertama, dzikir yang dipahami dan
dilaksanakan oleh umat Muslim pada umumnya. Di sini dzikir dianggap sebagai
ibadah sunnah yang dilaksanakan setelah shalat lima waktu. Kedua, amalan
dzikir yang dilaksanakan oleh umat Islam yang tergabung dalam kelompok
tarekat atau ‘sufi’ yang tergolong dalam
kelompok mistik Islam.
Ada dua macam
metode dzikir yang umum dilakukan di kalangan sufi, yaitu dzikir jahr
dan dzikir khofi. Dzikir jahr juga disebut dzikir lisan, di mana
orang membaca kalimat-kalimat dzikir secara lahiriah dengan suara yang jelas.
Sebaliknya, dzikir khofi atau disebut juga dzikir qolbi dilakukan
dengan menyebut nama Allah berulang-ulang secara batiniah di dalam hati, jiwa,
dan ruh (hal. 35).
Praktik dzikir ini banyak
dilakukan oleh umat lain, atau yang saat ini populer dengan praktik meditasi. Meditasi
merupakan sarana bantu (self-help) untuk mengatasi atau mengurangi
berbagai persoalan kehidupan sehari-hari, mulai dari masalah fisik, psikologis,
dan masalah sosial. Hal tersebut didukung oleh penelitian ilmiah yang dilakukan
untuk mendokumenkan berbagai penelitian pengaruh dari praktek meditasi. Esensi
praktek meditasi tidak jauh berbeda dengan praktek dzikir, bedanya dzikir
adalah fokus terhadap perenungan pada Allah, sedangkan meditasi adalah usaha
untuk mengingat kesadaran menuju satu objek yang tidak berubah dalam waktu
tertentu.
Transformasi
religius yang terjadi saat seseorang mendapat pengalaman mistis dari fenomena
dzikir, yaitu bisa mengubah tendensi jiwa dari orientasi ke dunia luar (luar)
ke dunia dalam (batin), mengubah jiwa yang masih kacau karena memikirkan
persoalan dunia, menuju ke arah penyatuan jiwa dan akhirnya bisa merubah
kehidupan religius dari yang berorientasi pada diri sendiri (self-centred)
ke arah kehidupan beragama yang berorientasi kepada Tuhan (God-centred).
Seperti yang dikatan oleh Allport, bahwa orientasi keberagamaan
seserorang itu bermacam-macam maka perlu diarahkan.
Masih banyak
orang-orang yang memiliki pemahaman
keberagamaan yang tidak pada jalur yang sebenarnya. Memang, untuk mendapatkan
penghayatan yang utuh dalam menjalankan ibadah bukanlah hal yang mudah. Dzikir,
mungkin bisa menjadi salah satu media atau obat dari sekian polemik dalam
kehidupan ini. Fenomena perang fisik ataupun batin yang disebabkan oleh
kedangkalan dalam memaknai hakekat pengalaman beragama, sudah banyak menelan
korban dan menimbulkan derita yang menyesakkan dada.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar