Pages

Selasa, 02 September 2014

Transformasi Spiritual Melalui Dzikir


Judul Buku: Psikologi Dzikir
Penulis: M.A. Subandi. PhD
Penerbit: Pustaka Pelajar
Tahun Terbit: Agustus 2009
Tebal: 310 halaman.

Kehidupan manusia tidak luput dari yang namanya peperangan, baik peperangan fisik maupun peperangan batin. Aspek peperangan fisik merupakan suatu tragedi berkepanjangan, efeknya bisa meluluhlantakkan peradaban umat manusia. Sedangkan peperangan batin efeknya juga bisa meluluhlantakkan kehidupan umat manusia dengan tumpulnya hati nurani. Peperangan fisik terjadi disebabkan oleh congkak dan kesombongan yang telah mengamputasi hati nurani. 

Aspek fisik dan batin merupakan entitas yang melekat pada diri orang –orang yang mengaku beragama. Sedangkan perilaku beragama yang menyisakan tragedi sudah lama mengakar dalam masyarakat. Bahkan, hal itu tidak hanya menimpa umat Islam saja, tetapi juga terjadi pada umat agama lain. Perkembangan ini tidak memuaskan kebutuhan batin mereka, bisa dilihat dengan perilaku-perilakunya yang masih kering kerontang. Agama terasa sebatas hal yang sifatnya ritual yang dilakukan bukan untuk kebutuhan melainkan kewajiban yang mencekik.

Aplikasi pendekatan kuantitaif dalam beragama sebenarnya sudah banyak menuai kritik. Kehidupan beragama semacam ini cuma menitikberatkan pada pelaksanaan kewajiban saja layaknya upacara, tidak menyentuh pada nilai penghayatan di balik pelaksanaan ibadah yang sedang diniatkan. Padahal agama merupakan fenomena pengalaman batin yang begitu komplek dan membutuhkan perenungan yang mendalam.


Maka hal yang wajar, ketika saat ini perlu kiranya ditengahkan kajian-kajian yang berkaitan dengan konversi dalam beragama. Istilah konversi ini banyak ditemukan dalam kajian psikologi agama. Konversi adalah fenomena perubahan kehidupan beragama yang dramatis. Istilah konversi dalam buku ini, diistilahkan dengan transformasi religius. Telah jamak diketahui terdapat dua perubahan orientasi beragama, yaitu konversi bisa (ordinary religious life) dan konversi berbasis penghayatan yang mengarah pada mistik (mystical religious life).

Salah satu media untuk mendapatkan penghayatan keberagamaan adalah melalui dzikir. Dzikir merupakan salah satu model untuk mengantarkan seseorang pada konversi mistik. Amalan dzikir dibagi menjadi dua bentuk. Pertama, dzikir yang dipahami dan dilaksanakan oleh umat Muslim pada umumnya. Di sini dzikir dianggap sebagai ibadah sunnah yang dilaksanakan setelah shalat lima waktu. Kedua, amalan dzikir yang dilaksanakan oleh umat Islam yang tergabung dalam kelompok tarekat  atau ‘sufi’ yang tergolong dalam kelompok mistik Islam.

Ada dua macam metode dzikir yang umum dilakukan di kalangan sufi, yaitu dzikir jahr dan dzikir khofi. Dzikir jahr juga disebut dzikir lisan, di mana orang membaca kalimat-kalimat dzikir secara lahiriah dengan suara yang jelas. Sebaliknya, dzikir khofi atau disebut juga dzikir qolbi dilakukan dengan menyebut nama Allah berulang-ulang secara batiniah di dalam hati, jiwa, dan ruh (hal. 35).

Praktik dzikir ini banyak dilakukan oleh umat lain, atau yang saat ini populer dengan praktik meditasi. Meditasi merupakan sarana bantu (self-help) untuk mengatasi atau mengurangi berbagai persoalan kehidupan sehari-hari, mulai dari masalah fisik, psikologis, dan masalah sosial. Hal tersebut didukung oleh penelitian ilmiah yang dilakukan untuk mendokumenkan berbagai penelitian pengaruh dari praktek meditasi. Esensi praktek meditasi tidak jauh berbeda dengan praktek dzikir, bedanya dzikir adalah fokus terhadap perenungan pada Allah, sedangkan meditasi adalah usaha untuk mengingat kesadaran menuju satu objek yang tidak berubah dalam waktu tertentu.

Transformasi religius yang terjadi saat seseorang mendapat pengalaman mistis dari fenomena dzikir, yaitu bisa mengubah tendensi jiwa dari orientasi ke dunia luar (luar) ke dunia dalam (batin), mengubah jiwa yang masih kacau karena memikirkan persoalan dunia, menuju ke arah penyatuan jiwa dan akhirnya bisa merubah kehidupan religius dari yang berorientasi pada diri sendiri (self-centred) ke arah kehidupan beragama yang berorientasi kepada Tuhan (God-centred). Seperti yang dikatan oleh Allport, bahwa orientasi keberagamaan seserorang itu bermacam-macam maka perlu diarahkan.

Masih banyak orang-orang yang memiliki pemahaman  keberagamaan yang tidak pada jalur yang sebenarnya. Memang, untuk mendapatkan penghayatan yang utuh dalam menjalankan ibadah bukanlah hal yang mudah. Dzikir, mungkin bisa menjadi salah satu media atau obat dari sekian polemik dalam kehidupan ini. Fenomena perang fisik ataupun batin yang disebabkan oleh kedangkalan dalam memaknai hakekat pengalaman beragama, sudah banyak menelan korban dan menimbulkan derita yang menyesakkan dada.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar