Judul Buku : Let’s Change!
Penulis :
Rhenald Kasali
Terbitan :
Kompas
Tebal :
x + 278 hlm
Cetakan :
Februari, 2014
ISBN :
978-979-709-794-3
Problem
mendasar yang tengah dihadapi oleh bangsa Indonesia adalah kesadaran kolektif
dari pelbagai elemen untuk bangkit dari situasi krisis yang menghambat kemajuan
bangsa seperti perilaku korupsi yang semakin menghabituasi, hutang luar negeri
yang kian menumpuk, sistem birokrasi yang lamban, konflik sosial dan
sebagainya. Tak dapat disangkal bahwa minimnya komitmen bersama guna keluar
dari beban krisis membuat negara ini seperti berjalan di tempat sehingga
tertinggal dari negara-negara lain.
Belenggu
yang tampak di permukaan dan menjadi kendala berlarut-larutnya krisis adalah
kinerja para aparatur negara alias pemangku jabatan di lingkungan pemerintahan yang
tak kunjung membaik. Tidak hanya di pemerintahan tingkat pusat, pejabat-pejabat
di tingkatan daerah juga turut menyumbang lambannya restorasi birokrasi, mengabaikan
asas profesionalisme dengan lebih mementingkan prestise dibandingkan dengan
prestasi. Terlebih lagi, disharmoni merebak di segala sektor.
Hadirnya
buku ini membawa angin segar terkait polemik di atas. Tema pokok yang diusung
oleh Rhenald Kasali, penulis buku ini, adalah perubahan, merupakan tema yang
selama ini intens ia kampanyekan. Melalui buku yang merupakan kumpulan tulisan-tulisannya yang
terbit di Koran Harian Kompas, Rhenald Kasali menggarisbawahi bahwa krisis sejatinya
perlu dimaknai sebagai spirit untuk bangkit bukan semata-mata beban. Demikian
pula, untuk keluar dari situasi krisis perlu mengupayakan perubahan secara
simultan.
Perubahan
yang dimaksud di sini bukanlah perubahan sebatas jargon. Kalau hanya berupa
kata-kata begitu mudah untuk diucapkan dan tak akan membawa efek yang cukup
berarti. Bagi Rhenald Kasali, perubahan memerlukan lebih dari sekadar bahasa komunikasi,
yaitu membutuhkan sebuah mentalitas yang kuat berupa kekuatan untuk
mengarahkan, melakukan koordinasi, dan tentu saja yang terpenting adalah
keberanian. Termasuk di dalamnya adalah besarnya nyali untuk melakukan
terobosan, menghadapi risiko dan juga tantangan.
Untuk
maksud yang demikian, ada tiga modalitas penting yang perlu digalakkan agar
perubahan yang sesuai dengan harapan masyarakat yakni kehidupan yang makmur dan
bangsa yang memiliki daya saing bisa tercapai. Pertama, menyangkut
kepemimpinan. Dalam bahasa Rhenald Kasali, untuk bangkit Indonesia memerlukan
pemimpin yang bertipe reptilia, yakni yang agresif, tegas, fokus, analitikal,
tidak merasa perlu berkelompok, tetapi berani berkorban. Problemnya, pemimpin
bertipe reptilia saat ini belum disukai masyarakat kita.
Modalitas
yang kedua adalah alignment, Rhenald
Kasali memaknainya menyatukan pikiran dan tindakan. Hal yang vital dalam upaya
untuk bangkit dari krisis, perubahan harus dimulai dari lingkungan birokrasi
dengan prinsip alignment. Sayangnya,
atmosfir birokrasi di Indonesia belum menunjukkan adanya kesatuan visi antar
satu departemen dengan yang lain, bahkan tak jarang terjadi miskoordinasi dan
polemik yang dibingkai kepentingan yang berbeda-beda.
Padahal,
tanpa adanya kesatuan pandangan dan komitmen hanya akan banyak menghabiskan
energi yang terbuang sia-sia. Bisa dibayangkan apabila sistem birokrasi di
negeri ini berjalan tak tentu arah, tanpa rantai komando yang jelas,
program-program akan berjalan tidak efektif dan pemborosan terjadi di
mana-mana. Hal ini juga akan memunculkan sikap resistensi dari masyarakat
terhadap perubahan akibat dari buruknya kinerja di lingkungan birokrasi.
Ketiga,
adalah modalitas yang menyangkut pola pikir bahwa perubahan itu tidak hanya
menyangkut situasi yang berubah tetapi juga kemampuan beradaptasi, yaitu
perubahan itu terus berlanjut dan bersifat kumulatif. Keyakinan semacam ini harus menyentuh mindset, cara berpikir masyarakat. Untuk itu, tulisan-tulisan dalam
buku ini banyak mengupas spirit perubahan dari berbagai lini baik itu di
lingkungan pendidikan, birokrasi, ekonomi, sosial masyarakat, dan sebagainya.
Sebagai
buah dari gagasan-gagasan yang cemerlang dari Rhenald Kasali, melalui buku ini
kita bisa menanamkan dalam pikiran bawah sadar kita masing-masing tentang arti
pentingnya sebuah perubahan. Tanpa adanya sebuah perubahan, kita akan menjadi
bangsa yang malas, terperangkap pada kenyamanan, tidak tahan banting terhadap
krisis, miskin inovasi, serta tidak menjadi aktor penting di balik majunya
sebuah peradaban.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar