Pages

Selasa, 02 September 2014

Peran Televisi Bagi Pendidikan



Judul       : Televisi sebagai Media Pendidikan       
Penulis     : Drs. Darwanto, S.S
Penerbit   : Pustaka Pelajar
Cetakan   : Januari 2007
Tebal       : 345 Halaman


Televisi saat ini menjadi teman terdekat bagi masyarakat, sekaligus teman curhat yang selalu menemani waktu senggang maupun saat punya kesibukan. Sebagai salah satu media yang canggih, televisi dapat memberikan informasi yang cepat dari berbagai peristiwa yang terjadi di belahan dunia lewat akses visual dan audiovisual. Acara yang ditawarkan pun sangat beragam dan memikat hampir seluruh penonton yang melihatnya, mulai kalangan anak-anak, remaja, dewasa, bahkan kaum lanjut usia.
Dari sini dapat kita lihat dan rasakan, bahwa kecenderungan masyarakat Indonesia, dihadapkan pada kenyataan yang tidak dapat terelakkan, bahwa berbagai kebudayaan asing, yang tidak semuanya sejalan dengan kebudayaan kita, telah masuk dalam kehidupan kita. Hal ini perlu dicermati sebagai peluang yang efektif untuk mencerdaskan bangsa ini, agar tidak terjebak pada tontonan yang dapat mengkerdilkan pola pikir, cara hidup, dan segala aksen lifestyle masyarakat.


Keberadaan TVRI sebagai stasiun nasional dan kemunculan stasiun swasta yang begitu menggurita, seharusnya dapat merespon ide pencerdasan tersebut, mempunyai berbagai alternatif pilihan program dalam setiap siarannya, setidaknya bersifat menghibur dan mendidik sekaligus. Dalam artian, program-program yang disiarkan harus mampu membantu kesejahteraan masyarakat, yang sedang menghadapi era globalisasi di berbagai bidang, di mana masyarakat sedang dihadapkan pada masa transisi, memasuki kondisi yang selangkah lebih maju, tanpa mengabaikan orientasi kehidupan yang cerdas dan bermartabat.
Darwanto, pengarang buku ini, memandang dunia pertelevisian sebagai media komunikasi yang tepat untuk menyampaikan pesan moral pendidikan. Seorang komunikator yang bijaksana menurutnya, memerlukan tahapan-tahapan tertentu, misalnya jika ide atau pesan yang akan disampaikan, merupakan pesan yang sangat peka terhadap kebudayaan setempat, seharusnya terlebih dahulu ada pengkajian, jika masyarakat bisa menerima ide atau pesan tadi, maka pada tahap selanjutnya layak dikomunikasikan dengan tatap muka, (hlm 10).
Karena itulah mereka yang akan melaksanakan proses komunikasi harus, mampu memilih jenis komunikasi yang dirasakan paling tepat, dalam pemilihan ini tentu saja harus disesuaikan dengan kepentingan serta tujuan yang ingin dicapai. Kenyataan dewasa ini, media massa televisi itu, komunikasinya kebanyakan satu arah, sehingga khalayak penonton menjadi pasif, artinya penonton tidak bisa memberikan tanggapan-tanggapan secara langsung. Karena itu tidak mengherankan kalau ada beberapa pendapat yang mengatakan, televisi sebagai media massa yang mendorong orang untuk bermalas-malasan, dicekoki muatan hiburan an sich, bahkan cenderung berpengaruh negatif terhadap tingkah laku dan sikap seseorang.
Oleh karena itu, hal itu perlu mendapat perhatian dari pihak-pihak pengelola pertelevisian maupun pemerintah, bahu-membahu menyuarakan televisi sebagai guru dalam kehidupan, khususnya pada anak-anak, mengingat bahwa anak-anak dalam menonton televisi cenderung hanya sekedar menonton. Mereka pasif dan hampir-hampir tidak berpikir, bagi anak-anak pengaruh positif dan negatif, bukan bersumber pada medianya, melainkan bagaimana memanfaatkan media tersebut. Hal tersebut diungkapkan oleh Patricia Marks Greenfield dalam bukunya Mind and Media.
Dengan pendapat di atas, potensi yang dimiliki media televisi menjadi positif karenanya, dalam arti mampu memberikan tambahan pengetahuan serta keterampilan, bukan saja kepada anak-anak tetapi juga kepada khalayak penonton pada umumnya, bahkan mereka yang buta huruf pun dapat memanfaatkannya.
Hasil eksperimen yang dianalisis dalam buku Televisi sebagai Media Pendidikan ini, setidaknya dapat memberikan warna baru bagi dunia pertelevisian kita. Sebagian besar bahasannya menunjukkan betapa pengaruh televisi mempunyai peran penting untuk memberikan pengarahan, sebagai media pembelajaran, di samping menyuguhkan hiburan yang positif dan memuat informasi penting mengenai pelbagai persoalan dalam segala bidang.
Jika vitalitas peranan televisi sebagai media pembelajaran itu benar-benar kita akui, masalahnya yang perlu kita kritisi sekarang adalah melekatnya orientasi bisnis di balik dunia penyiaran, lebih menekankan gairah materiil daripada tanggung jawab moral dan mengalahkan ide pencerdasan, sehingga media televisi untuk menyampaikan nilai dan warisan sosial budaya dari satu generasi ke generasi yang lain tertangguhkan, keberadaan buku ini kiranya dapat menjadi salah satu pilihan alternatif kajian yang layak dipertimbangkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar