Judul :
Televisi sebagai Media Pendidikan
Penulis : Drs.
Darwanto, S.S
Penerbit : Pustaka
Pelajar
Cetakan : Januari
2007
Tebal : 345
Halaman
Televisi saat ini menjadi teman terdekat bagi masyarakat, sekaligus teman curhat yang selalu menemani waktu senggang maupun saat punya kesibukan. Sebagai salah satu media yang canggih, televisi dapat memberikan informasi yang cepat dari berbagai peristiwa yang terjadi di belahan dunia lewat akses visual dan audiovisual. Acara yang ditawarkan pun sangat beragam dan memikat hampir seluruh penonton yang melihatnya, mulai kalangan anak-anak, remaja, dewasa, bahkan kaum lanjut usia.
Dari sini dapat
kita lihat dan rasakan, bahwa kecenderungan masyarakat Indonesia, dihadapkan
pada kenyataan yang tidak dapat terelakkan, bahwa berbagai kebudayaan asing,
yang tidak semuanya sejalan dengan kebudayaan kita, telah masuk dalam kehidupan
kita. Hal ini perlu dicermati sebagai peluang yang efektif untuk mencerdaskan
bangsa ini, agar tidak terjebak pada tontonan yang dapat mengkerdilkan pola
pikir, cara hidup, dan segala aksen lifestyle masyarakat.
Keberadaan TVRI
sebagai stasiun nasional dan kemunculan stasiun swasta yang begitu menggurita,
seharusnya dapat merespon ide pencerdasan tersebut, mempunyai berbagai
alternatif pilihan program dalam setiap siarannya, setidaknya bersifat
menghibur dan mendidik sekaligus. Dalam artian, program-program yang disiarkan
harus mampu membantu kesejahteraan masyarakat, yang sedang menghadapi era
globalisasi di berbagai bidang, di mana masyarakat sedang dihadapkan pada masa
transisi, memasuki kondisi yang selangkah lebih maju, tanpa mengabaikan
orientasi kehidupan yang cerdas dan bermartabat.
Darwanto, pengarang
buku ini, memandang dunia pertelevisian sebagai media komunikasi yang tepat
untuk menyampaikan pesan moral pendidikan. Seorang komunikator yang bijaksana
menurutnya, memerlukan tahapan-tahapan tertentu, misalnya jika ide atau pesan
yang akan disampaikan, merupakan pesan yang sangat peka terhadap kebudayaan
setempat, seharusnya terlebih dahulu ada pengkajian, jika masyarakat bisa
menerima ide atau pesan tadi, maka pada tahap selanjutnya layak dikomunikasikan
dengan tatap muka, (hlm 10).
Karena itulah
mereka yang akan melaksanakan proses komunikasi harus, mampu memilih jenis
komunikasi yang dirasakan paling tepat, dalam pemilihan ini tentu saja harus
disesuaikan dengan kepentingan serta tujuan yang ingin dicapai. Kenyataan
dewasa ini, media massa televisi itu, komunikasinya kebanyakan satu arah,
sehingga khalayak penonton menjadi pasif, artinya penonton tidak bisa
memberikan tanggapan-tanggapan secara langsung. Karena itu tidak mengherankan
kalau ada beberapa pendapat yang mengatakan, televisi sebagai media massa yang
mendorong orang untuk bermalas-malasan, dicekoki muatan hiburan an sich,
bahkan cenderung berpengaruh negatif terhadap tingkah laku dan sikap seseorang.
Oleh karena itu,
hal itu perlu mendapat perhatian dari pihak-pihak pengelola pertelevisian
maupun pemerintah, bahu-membahu menyuarakan televisi sebagai guru dalam
kehidupan, khususnya pada anak-anak, mengingat bahwa anak-anak dalam menonton
televisi cenderung hanya sekedar menonton. Mereka pasif dan hampir-hampir tidak
berpikir, bagi anak-anak pengaruh positif dan negatif, bukan bersumber pada
medianya, melainkan bagaimana memanfaatkan media tersebut. Hal tersebut
diungkapkan oleh Patricia Marks Greenfield dalam bukunya Mind and Media.
Dengan pendapat di
atas, potensi yang dimiliki media televisi menjadi positif karenanya, dalam
arti mampu memberikan tambahan pengetahuan serta keterampilan, bukan saja
kepada anak-anak tetapi juga kepada khalayak penonton pada umumnya, bahkan
mereka yang buta huruf pun dapat memanfaatkannya.
Hasil eksperimen
yang dianalisis dalam buku Televisi sebagai Media Pendidikan ini, setidaknya
dapat memberikan warna baru bagi dunia pertelevisian kita. Sebagian besar
bahasannya menunjukkan betapa pengaruh televisi mempunyai peran penting untuk
memberikan pengarahan, sebagai media pembelajaran, di samping menyuguhkan
hiburan yang positif dan memuat informasi penting mengenai pelbagai persoalan
dalam segala bidang.
Jika vitalitas
peranan televisi sebagai media pembelajaran itu benar-benar kita akui,
masalahnya yang perlu kita kritisi sekarang adalah melekatnya orientasi bisnis
di balik dunia penyiaran, lebih menekankan gairah materiil daripada tanggung
jawab moral dan mengalahkan ide pencerdasan, sehingga media televisi untuk
menyampaikan nilai dan warisan sosial budaya dari satu generasi ke generasi
yang lain tertangguhkan, keberadaan buku ini kiranya dapat menjadi salah satu
pilihan alternatif kajian yang layak dipertimbangkan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar